Waktu

Friday, September 16, 2011

laporan laboratorium Aspal

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pengetahuan tentang bahan bangunan khususnya bangunna jalan raya merupakan sangat penting bagi mereka yang berkecimpung didunia konstruksi. Pengetahuan tentang bahan bangunan ini meliputi : macam – macamnya, sifat - sifatnya, bahan dasrnya, cara memproduksinya, syarat – syarat yang harus dipenuhi pengunaan dalam konstruksi perkerasan jalan

Aspal merupakan salah satu bahan yang sering digunakan dalam pembutan konstruksi perkerasan jalan khusunya pada lapis permukaan karena kelebihan yang dimilikinya antara lain, memiliki sifat elastis bila menerima beban kendaraan, memiliki skin resistence, mampu manhan bising, dan nyaman.

Sehinnga untuk mendapatkan sifat yang diinginkan dari aspal tersebut maka, perlu dilakukan perencanaan cmapuran. Untuk mendapatkan persentase agregat dan aspal yang digunakan dalam aspal tersebut. Dalam melakukan perencanaan campuran diperlukan data karakteristik dari bahan penyusun agar diperoleh hasil komposisi yang tepat

Penggunaan bahan bangunaan ini haruslah proporsional dengan katalain adanya kesesuaian pelaksanaan dengan perencanaan. Hal ini gunannya untuk menghindari kesalah dalam proses pelaksanaan sehingga umur rencana jalan tersebut tidak sesuai dengan umur rencana. Untuk menghasilkan suatu campuran aspal panas yang bekualitas perlu diadakan Pemeriksaan terhadap bahan – bahan penyususn acampuran tersebut. Mengingat banyaknya hal yang memungkinkan dapat mempengaruhi kualitas dari campuran aspal panas maka pemilihan bahan dan cara pengujiaan tidaklah mudah untuk dikerjkan dalam hal ini kualitas dan faktor ekonomis dari bahan harus diperhatikan.


B. RUANG LINGKUP
Adapun ruang lingkup pembahasan pada laporan ini adalah sebagai berikut :
Pegujian agregat :
1. Pemerikasaan analisa saringan CA
2. Pemerikasaan analisa saringan MA
3. Pemerikasaan analisa saringan FA
4. Pemerikasaan analisa saringan Filler
5. Pemeriksaan berat jenis dan penyerapan agregat CA
6. Pemeriksaan berat jenis dan penyerapan agregat MA
7. Pemeriksaan berat jenis dan penyerapan agregat FA
8. Pemeriksaan flakines dan elongasion
9. Pemeriksaan agregat impact value
10. Pemeriksaan keausan agegat dengan mesin Lost Angeles
11. Pemeriksaan kesetaraan pasir
12. Pemeriksaan kadar lumpur
Pengujian aspal antara lain :
1. Pemeriksaan berat jenis aspal
2. Pemeriksaan penetrasi aspal
3. Pemeriksaan titik leleh aspal
4. Pemeriksaan kehilanangan berat aspal
5. Pemeriksaan kelektan aspal pada agegat

Perancangan campuran ;
1. Penggabungan campuran dengan cara diagonal
2. Pembuatan benda uji Marshall
3. Pengujian density benda uji Marshall
4. Pengujian stabilitas dan flow benda uji Marshall

Kualiti kontrol
1. Pengujian core driil
2. Pengujian kadar aspal dengan ekstraksi
3. Pengujian analisa saringan hasil ekstraksi


C. TUJUAN DAN MAMFAAT
Adapun tujuan dan mamfaat dari pengujian diats adalah sebagai berikut :
1. Agar dapat menambah wawasan mahasiswa agar lebih memahami karakterisrik bahan campuran aspal panas.
2. Untuk mengetahui secara detail bagaimana karakteistik dari bahan capuran aspal panas terhadap penggunaanya dalam konstruksi jalan raya, baik mutu, kualitas, komposisi, dan campurannya.
3. Agar mahasiswa dapat menentukan apakan bahan campuran aspal panas tersebut memenuhi persyaratan yang telah ditentukan sehingga mampu mengambil keputusan layak atau tidaknya bahan tersebut untuk digunakan dalam campuran aspal panas

BAB II
LANDASAN TEORI

A. STANDART YANG DIGUNAKAN

1. SNI (Standar Nasional Indonesia),
2. AASHTO (American Association of State Highway and Transportation Officials),
3. ASTM (AmericanSociety for Testing and Materials),
4. dan standar lainnya yaitu sebagai berikut :
5. SNI 03-2417-1991 : Metoda pengujian keausan agregat dengan mesin abrasi Los Angeles
6. SNI 03-4141-1996 : Metoda pengujian jumlah bahan dalam agregat yang lolos saringan No. 200 (0,075 mm)
7. SNI 03-1968-1990 : Metode pengujian tentang analisis saringan agregat halus dan kasar
8. SNI 03-4428-1997 : Metode pengujian agregat halus atau pasir yang mengandung bahan plastis dengan cara setara pasir
9. SNI 03 -4141-1996 : Metode pengujian gumpalan lempung dan butir-butir mudah pecah dalam agregat
10. SNI 03-1969-1990 : Metode pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat kasar
11. SNI 03-1970-1990 : Metode pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat halus
12. SNI-06-2439-1991 : Metode pengujian kelekatan agregat terhadap aspal
13. Pennsylvania DoT Test : Determining the percentage of crushed fragments in No. 261 gravel
14. AASHTO TP-33 : Test procedure for fine aggregate angularity
15. BS 812-1975 : Pemeriksaan kepipihan dan kelonjongan agregat
16. SNI 06-2456-1991 : Penetrasi
17. SNI 06-2434-1991 : Titik lembek
18. SNI 06-2432-1991 : Daktilitas
19. SNI 06-2438-1991 : Kelarutan dalam C2HCl3
20. SNI 06-2433-1991 : Titik nyala
21. SNI 06-2488-1991 : Berat jenis
22. SNI 06-2441-1991 : Kehilangan berat
23. SNI 06-2456-1991 : Penetrasi setelah kehilangan berat
24. SNI 06-2432-1991 : Daktilitas setelah kehilangan berat
25. SNI 06-2434-1991 : Titik lembek setelah RTFOT
26. SNI 03-6411-2000 : Temperatur pencampuran dan pemadatan
27. SNI 06-2439-1991 : Kadar air
28. SNI-06-2489-1991 : Pengujian campuran beraspal dengan alat Marshall
29. AASHTO T164-1990 : Quantitative extraction of bitumen fro, bitumen paving mixes
30. AASHTO T166-1988 : Bulk spesific gravity of compacted bituminous mixes
31. AASHTO T168-1955 : Sampling for bituminous paving mixture
32. AASHTO T209-1990 : Maximum spesific gravity of bituminous paving mixtures
33. ASTM C-1252-1993 : Uncompacted void content of fine aggregate (as
influenced by particle shape, surface texture, and grading)
34. BS 598 Part 104 (1989) : Procedure used in the refusal density test

B. Agegat

Agregat / batuan didefenisiskna secara umum sebagai formasi kulit bumi yang keras dan penyal )solid) . ATM (1974) mendefenisikan batuan sebagai suatu bahan yang terdiri dari mineral padat, berupa masa berukuran besar maupun berupa fragmen – fragmen (39)
Agregat/batuan merupakan komponen utama dari lapisan perkerasan jalan yaitu mengandung 90 – 95% agregat berdasarkan persentase berat atau 75 – 85 % agregat berdasrkan persentase volume. Dengan demikian daya dukung, keawetan dan mutu perkerasan jalan ditentukan juga dari sifat agregat dan hasil campuran agregat dengan material lain.

1. Klasifikasi Agregat
a. Ditinjau dari asl kejadiannya
agegat batuan dapat dibedakan atas batuan beku, batuan sediment dan batuan matamorf.
Batuan Beku
Batuan yang berasl dari magma yang mendingin dan membeku. Dibedakan atas batuan beku luar (extrusive igneous rock) dan batuan beku dalam (intrusive igneous rock). Batuan beku luar dibentuk dari material yang kelua dari permukaan bumi di saat gunung merapi meletus. Akibat pengaruh cuaca mengalami pendinginaan dan membeku. Umumnya berbutir halus seperti batu apug, andesit, baslt oksidian dll. Batuan beku dalam dibentuk dalam dibentuk dari magma yng tidak dapat keluar ke permukaan bumi. Magma mengalami pendinginan dan membeku secara perlahan- lahan, bereksur kasar dan dapat ditemui dipermukaan bumi karena proses erosi dan gerakan bumi. Batuan beku jenis ini antara lain granit, gabbro, diorite dll.

Batuan Sedimen
Sedimen dapat berasl dari campuran partikel maineral, sisa hewan dan tanaman. Pada umunya merupakan lapisan – lapisan pada kulit bumi, asil endapat di danau, laut dst.
Berdasarkan cara pembentuknya batuan sedimen dapat dibedakan atas.
 Batuan sedimen yang dibentuk secara mekanik seperti breksi, kongongmerat, batu pasir, batu lempung. Batuan ini banyak mengandung silika.
 Batuan sidimen yang dibentuk secara organis seperti batu gamping , batu bara dll
 Batuan sedimen yang dibentuk secara kimiawi seperti batu gamping, garam, gips, flint.

Batuan Metamorf
Berasal dari batuan sedimen ataupun batuan beku yang mengalami proses perubhan bentuk akibat adanya perubahan tekanan dan temperatur dari kulit bumi.
Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan atas batuan metamorf yang masif seperti marmer, kwarsif dan batuan metamorf yang berfoliasi/ berlapis seperti batu sabak, filit dan sekis.

b. Berdasarkan Proses Pengolahannya
Agregat ynag dipergunkan pada perkerasan lentur dapat dibedakan atas agregat alam, agregat yang mengalami proses pengolahan terlebih dahulu, dan agregat buatan.



Bahan campuran beraspal panas
4.1 Umum
Campuran beraspal adalah suatu kombinasi campuran antara agregat dan aspal. Dalam
campuran beraspal, aspal berperan sebagai pengikat atau lem antar partikel agregat,
dan agregat berperan sebagai tulangan. Sifat-sifat mekanis aspal dalam campuran
beraspal diperoleh dari friksi dan kohesi dari bahan-bahan pembentuknya. Friksi agregat
diperoleh dari ikatan antar butir agregat (interlocking), dan kekuatannya tergantung pada
gradasi, tekstur permukaan, bentuk butiran dan ukuran agregat maksimum yang
digunakan. Sedangkan sifat kohesinya diperoleh dari sifat-sifat aspal yang digunakan.
Oleh sebab itu kinerja campuran beraspal sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat agregat dan
aspal serta sifat-sifat campuran padat yang sudah terbentuk dari kedua bahan tersebut.
Perkerasan beraspal dengan kinerja yang sesuai dengan persyaratan tidak akan dapat
diperoleh jika bahan yang digunakan tidak memenuhi syarat, meskipun peralatan dan
metoda kerja yang digunakan telah sesuai.
Berdasarkan gradasinya campuran beraspal panas dibedakan dalam tiga jenis
campuran, yaitu campuran beraspal bergradasi rapat, senjang dan terbuka. Tebal
minimum penghamparan masing-masing campuran sangat tergantung pada ukuran
maksimum agregat yang digunakan. Tebal padat campuran beraspal harus lebih dari 2
kali ukuran butir agregat maksimum yang digunakan. Beberapa jenis campuran aspal
panas yang umum digunakan di Indonesia antara lain :
- AC (Asphalt Concrete) atau laston (lapis beton aspal)
- HRS (Hot Rolled Sheet) atau lataston (lapis tipis beton aspal)
- HRSS (Hot Rolled Sand Sheet) atau latasir (lapis tipis aspal pasir)
Laston (AC) dapat dibedakan menjadi dua tergantung fungsinya pada konstruksi
perkerasan jalan, yaitu untuk lapis permukan atau lapisan aus (AC-wearing course) dan
untuk lapis pondasi (AC-base, AC-binder, ATB (Asphalt Treated Base)). Lataston (HRS)
juga dapat digunakan sebagai lapisan aus atau lapis pondasi. Latasir (HRSS) digunakan
untuk lalu-lintas ringan ( < 500.000 ESA).
Dalam pasal ini dijabarkan mengenai bahan campuran beraspal, yaitu aspal dan
agregat.
4.2 Aspal
Aspal atau bitumen merupakan material yang berwarna hitam kecoklatan yang bersifat
viskoelastis sehingga akan melunak dan mencair bila mendapat cukup pemanasan dan
sebaliknya. Sifat viskoelastis inilah yang membuat aspal dapat menyelimuti dan
menahan agregat tetap pada tempatnya selama proses produksi dan masa
pelayanannya. Pada dasarnya aspal terbuat dari suatu rantai hidrokarbon yang disebut
bitumen, oleh sebab itu aspal sering disebut material berbituminous.
Umumnya aspal dihasilkan dari penyulingan minyak bumi, sehingga disebut aspal
keras. Tingkat pengontrolan yang dilakukan pada tahapan proses penyulingan akan
menghasilkan aspal dengan sifat-sifat yang khusus yang cocok untuk pemakaian yang
khusus pula, seperti untuk pembuatan campuran beraspal, pelindung atap dan
penggunaan khusus lainnya.
9 dari 197
4.2.1 Sumber aspal
Aspal merupakan suatu produk berbasis minyak yang merupakan turunan dari proses
penyulingan minyak bumi, dan dikenal dengan nama aspal keras. Selain itu, aspal juga
terdapat di alam secara alamiah, aspal ini disebut aspal alam. Aspal modifikasi saat ini
juga telah dikenal luas. Aspal ini dibuat dengan menambahkan bahan tambah ke dalam
aspal yang bertujuan untuk memperbaiki atau memodifikasi sifat rheologinya sehingga
menghasilkan jenis aspal baru yang disebut aspal modifikasi.
4.2.1.1 Aspal hasil destilasi
Minyak mentah disuling dengan cara destilasi, yaitu suatu proses dimana berbagai fraksi
dipisahkan dari minyak mentah tersebut. Proses destilasi ini disertai oleh kenaikan
temperatur pemanasan minyak mentah tersebut. Pada setiap temperatur tertentu dari
proses destilasi akan dihasilkan produk-produk berbasis minyak seperti yang
diilustrasikan pada Gambar 1.
Gambar 1 Ilustrasi proses penyulingan minyak (The Asphalt Institute,










Gambar 1 Ilustrasi proses penyulingan minyak (The Asphalt Institute,1983)

4.2.1.1.1 Aspal keras
Pada proses destilasi fraksi ringan yang terkandung dalam minyak bumi dipisahkan
dengan destilasi sederhana hingga menyisakan suatu residu yang dikenal dengan nama
aspal keras. Dalam proses destilasi ini, aspal keras baru dihasilkan melalui proses
destilasi hampa pada temperatur sekitar 480 oC. Temperatur ini bervariasi tergantung
pada sumber minyak mentah yang disuling atau tingkat aspal keras yang akan
dihasilkan. Ilustrasi skematik penyulingan minyak mentah dan produk-produk yang
dihasilkannya seperti yang ditunjukan pada Gambar 2.























Sifat Aspal

Sifat Kimia,
ditentukan berdasarkan kandungan asplaten dan kandungan malten (resin, arumated, saturated)
Sifat Fisik,
ditentukan berdasarkan: durabilitasnya (penetrasi, titik lembek, dan daktilitas), Adhesi/ kohesi, Kepekaan terhadap perubahan temperatur, dan Pengerasan/ Penuaan

1. Sifat-sifat kimia aspal
- Aspalten
- Malten (resin, aromated, saturated)

2. Sifat-sifat fisik aspal
- Durabilitas (penetrasi, titik lembek, dan daktilitas)
- Adesi dan kohesi
- Kepekaan terhadap perubahan temperatur
- Pengerasan dan penuaan

No comments:

Post a Comment

Entri Populer

berbagi 4 SHARED

sport.detik

lintas.me - Terpopular

Loading...

Amazon MP3 Clips

There was an error in this gadget

Tribunnews - RSS

Bola.net

Goal.com News - Indonesian

Beritabola.com

Viva News